Loading...

Minggu, 07 November 2010

budidaya ikan nila gesit keramba jaring apung


PEMANFAATAN ALIRAN SUNGAI UNTUK USAHA BUDIDAYA IKAN NILA GESIT (OREOCHROMIS NILOTICUS) DALAM KERAMBA JARING TANCAP DI DESA SEMPERIUK KECAMATAN JAWAI SELATAN KABUPATEN SAMBAS

Arifin, Zapirudin dan Nofembrianti
PKM - K
Universitas Muhammadiyah Pontianak

Abstrak

Desa Semperiuk Kecamatan Jawai Selatan Kabupaten Sambas merupakan daerah yang memiliki potensi perikanan yang besar. Namun hasil perikanan umumnya hanya diperoleh dari pada perikanan yang cenderung semakin rendah oleh sebab itu perlu dilakukan budidaya ikan, salah satunya ikan nila gesit. Tujuan dari kegiatan ini adalah memanfaatkan sungai semperiuk untuk budidaya keramba tancap sehingga dapat memotivasi masyarakat untuk berwirausaha, pendekatan yang dilakukan pada kegiatan ini adalah melalui RRA, PRA dan pemeliharaan langsung pada masyarakat. Berdasarkan hasil pembesaran ikan nila gesit selama ± 70 hari sangat baik dengan pertumbuhan perhari sekitar 2,71 gram dengan tingkat survival rite sebesar 90 %. Hasil analisis usaha sampai pemeliharaan atau satu siklus sebesar Rp. 4.825.450 dan B/C Racio = 3,0 dan survival rite = 90%.

Keywords : Nila Gesit, KJT, Pembesaran Nila Gesit Desa Semperiuk






KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena rahmad dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan laporan pertanggung jawaban program kreativitas mahasiswa (PKM.K) “Pemanfaatan Aliran Sungai Untuk Usaha Budidaya Ikan Nila Gesit Dalam Keramba Jaring Tancap Di Desa Semperiuk Kecamatan Jawai Selatan Kabupaten Sambas”.
Ucapan terima kasih di sampaikan kepada DIREKTORAT JENDRAL PENDIDIKAN TINGGI DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL yang telah memberikan bantuan kepada mahasiswa dalam pelaksanaan PKM-K. Ucapan terima kasih juga di sampaikan kepada pihak kampus dan dosen pendamping yang telah memberikan dukungan dan bimbingan kepada penyusun dalam menyelesaikan kegiatan laporan akhir ini. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat kecamatan Jawai Selatan yang telah membantu dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Penyusun menyadari dalam penyelesaian laporan PKM-K ini sangat banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat di butuhkan guna kesempurnaan dalam penyusunan laporan berikutnya.








                                                                                    Pontianak, 3  Mei 2010




                                                                                            Penyusun







I.                   PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Kabupaten Sambas adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Sambas memiliki luas wilayah 6.395,70 km atau 639.570 ha (4,36% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat), merupakan wilayah Kabupaten yang terletak pada bagian pantai barat paling utara dari wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Di sektor perikanan, kabupaten ini menghasilkan berbagai komoditi perikanan yang dapat dibudidayakan di tambak, sungai maupun di kolam. Dari ketiga jenis perairan tersebut dapat dihasilkan suatu produksi perikanan yang memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu peningkatan ekspor non migas yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan asli daerah (PAD).
Usaha kearah pembudidayaan ikan di perairan umum sangat diperlukan sebagai penyeimbang dan membantu pemenuhan produksi ikan yang selama ini diperoleh dari hasil penangkapan yang cenderung semakin menurun. Hal ini tidak diimbangi dengan usaha budidaya dan penebaran ikan (restocking) yang akan mengakibatkan terganggunya kelestarian sumber daya perairan. Seiring dengan berkembangnya zaman dan meningkatnya pertambahan penduduk yang diiringi dengan semakin meningkatnya  kebutuhan protein hewani oleh manusia setiap tahunnya, maka perlu adanya peningkatan produksi ikan sebagai salah satu sumber pangan dan sumber protein. Peningkatan produksi perikanan dapat dilakukan dengan kegiatan pembudidayaan ikan.
Perairan umum yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya perikanan dan belum diusahakan secara maksimal oleh masyarakat salah satunya adalah sungai. Air sungai dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan curah hujan, sehingga perairan cenderung tawar dan payau. Selain budidaya keramba apung atau keramba jaring apung (KJA), budidaya perikanan di sungai juga dapat dilakukan dengan keramba jaring tancap (KJT).
Kabupaten Sambas memiliki 3 (tiga) Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan total hamparan 516.200 ha, meliputi: DAS Paloh (64.375 ha), DAS Sambas (258.700 ha) dan DAS Sebangkau (193.125 ha). Berdasarkan Data Statistik Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sambas (2007), Disektor perikanan potensi keramba yang dapat di bangun pada daerah aliran ini sekitar 3.872 unit atau dapat memproduksi 406,56 ton/tahun sedangkan jumlah keramba yang ada ± 70 unit dengan jumlah produksi 15,80 ton/tahun atau 3,9% dari potensi produksi lestari. Potensi DAS yang baru dimanfaatkan untuk budidaya ikan dikeramba hanya 1,9%, sehingga diperlukan suatu usaha agar potensi lestari tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Komoditas yang dapat dibudidayakan dalam keramba jaring tancap salah satunya Ikan nila (oreochromis niloticus). Ikan ini merupakan spesies penting dalam perikanan budidaya dan saat ini yang telah berkembang pesat. Selain sudah memasyarakat, budidaya ikan nila relatif mudah. Salah satu jenis yang sukses dikembangkan dalam berbagai prototipe adalah ikan nila Genetically Supermale Indonesian Tilapia (Gesit) karena lebih cocok di kembangkan di seluruh wilayah Indonesia. Ikan nila Gesit merupakan nila yang berasal dari perkawinan nila jantan super YY dengan betina normal, ikan ini secara resmi diluncurkan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) pada 15 Desember 2006 di Wanayasa, Kab Purwakarta. Ikan nila gesit yang dikembangkan, yakni jenis jantan karena lebih menguntungkan secara ekonomis. Pertumbuhan ikan nila jantan 1,5 kali lebih cepat daripada yang betina. Ikan nila merupakan salah satu komoditas andalan untuk memproduksi ikan air tawar dalam bentuk segar maupun dalam bentuk olahan, berupa pellet segar, Pellet beku ataupun surimi yang memiliki potensi yang cukup besar di pasar internasional terutama Amerika Serikat dan Jepang.
1.2.        Perumusan Masalah
Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi yang mengalir menuju Samudera, sungai terbentuk secara alami oleh proses alam. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan, embun, mata air dan di beberapa negara tertantu air sungai juga berasal dari lelehan es. Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah untuk irigasi pertanian atau perkebunan, bahan baku air minum, sarana transportasi, daerah penangkapan ikan, sebagai saluran pembuangan air dan sangat potensial untuk objek wisata sungai. Selain itu sungai juga dapat dijadikan sebagai lokasi untuk usaha budidaya perikanan.
Pemanfatan aliran sungai di desa semperiuk untuk pengembangan dibidang perikanan sangat kurang sehingga daerah ini perlu di lakukan pengenbangan usaha budidaya di bidang perikanan khususnya budidaya ikan nila.
Pemahaman akan manfaat sungai untuk usaha budidaya ikan dalam keramba jaring tancap oleh masyarakat sangat minim, sehingga diperlukan suatu upaya untuk menggerakkan mereka dengan memberikan contoh bagaimana cara membudidayakan ikan dalam keramba jaring tancap.

1.3.        Tujuan
Kegiatan PKMK ini bertujuan untuk memanfaatkan aliran sungai yang ada di Desa Semperiuk sebagai usaha budidaya ikan nila gesit dalam keramba jaring tancap.

1.4.        Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari program ini adalah Menghasilkan ikan nila gesit hidup dan segar yang siap di pasarkan pada konsumen. Pengembangan usaha budidaya ikan secara berkelanjutan.

1.5.        Kegunaan
Kegunaan yang akan diperoleh dari kegiatan ini antara lain dapat menciptakan usaha lapangan pekerjaan baru, menumbuh kembangkankan jiwa kewirausahaan  bagi mahasiswa untuk memasuki dunia kerja dan merupakan penghasilan bagi mahasiswa.



II.               Gambaran Umum Usaha

2.1. Keadaan Umum Desa
Desa Semperiuk merupakan salah satu dari ratusan Desa yang ada di Kabupaten Sambas, terletak di Kecamatan Jawai Selatan. Desa ini hanya dapat ditempuh melalui jalur darat dengan menyeberangi sungai. Jarak dari Kota Sambas sekitar 2 jam dan 6 jam dari Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat jika menggunakan kendaraan bermotor dan memerlukan waktu setengah jam untuk menyebrangi sungai. Di sebelah Selatan Desa Semperiuk berbatasan langsung dengan Sungai Sambas, sebelah Utara berbatasan Desa Suah Api, sebelah Timur berbatasan Desa Sabaran dan di bagian Barat berbatasan dengan Desa Sarilaba. Beberapa anak sungai yang ada di Semperiuk bermuara di DAS Sambas.
Sungai dimanfaatkan warga setempat untuk lahan penangkapan ikan, keperluan pengairan sawah dan perkebunan serta  sarana transportasi air. Sedangkan untuk usaha budidaya sungai ini belum sama sekali dimanfaatkan oleh masyarakat. Setiap musim kemarau anak sungai yang ada tidak pernah mengalami kekeringan, karena sumber air dipengaruhi oleh pasang surut air laut yang dibawa oleh induk sungai. Sebaliknya dimusim hujan, sungai ini tidak pernah meluap karena pergerakan air yang cukup lancar. Salinitas di Sungai ini tergantung pada musim, disaat curah hujan tinggi air cenderung tawar sedangkan di musim kemarau air akan payau.

2.2.  Potensi yang Dimiliki
Tersedianya air sepanjang tahun dan belum dimanfaatkannya sungai secara maksimal oleh  masyarakat setempat, sehingga diperlukan suatu usaha agar sungai  dapat memberikan kontribusi lebih. Pemeliharaan ikan atau dikenal dengan budidaya merupakan suatu usaha yang menjanjikan untuk mengoptimalkan fungsi dari sungai yang ada. Budidaya ikan di sungai dapat dilakukan dengan keramba jaring tancap. Budidaya dengan keramba jaring tancap desainnya sangat sederhana, pengoperasiannya  mudah dan dana yang diperlukan untuk membuat keramba juga tidak terlalu besar. Sehingga setiap warga yang bermukim ditepian sungai dapat melakukan usaha ini tanpa mengganggu pekerjaan utamanya.
Ikan air tawar yang paling cocok dibudidayakan di sungai Semperiuk yang sumber airnya sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut adalah jenis nila. Ikan nila merupakan ikan yang mampu bertahan hidup pada berbagai kondisi lingkungan terutama perubahan salinitas. Selain tahan terhadap kadar garam yang tinggi, pertumbuhan ikan nila juga tergolong cepat karena respon terhadap pakan buatan dalam waktu 3-4 bulan sudah mencapai ukuran konsumsi.

2.3. Peluang Pasar
Ikan nila mempunyai nilai gizi yang tinggi terutama kandungan protein, rasanya yang gurih dan nikmat sehingga banyak digemari setiap lapisan masyarakat. Ikan nila yang akan diproduksi dapat dipasarkan langsung pada konsumen, rumah-rumah makan, para pengumpul ikan. Tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk ikan segar, ikan nila juga dapat dibuat berbagai macam  bentuk olahan, berupa pellet segar, pellet beku ataupun surimi yang memiliki potensi yang cukup besar di pasar internasional.





















III.           METODE PENDEKATAN

3.1.  Metode RRA
Metode Rapid Rural Appraisal (RRA) adalah metode pemahaman suatu wilayah masyarakat secara cepat, ini digunakan dalam pengidentifikasian potensi dan permasalahan pengembangan usaha di sektor perikanan terutama pembudidayaan. Metode ini  sekaligus juga dimanfaatkan untuk pelaksanaan koordinasi, konsultasi dan konsolidasi. Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan wawancara langsung dengan masyarakat dan kepala desa setempat.
3.2.  Metode PRA
Metode PRA (participatory rural appraisal) adalah metode Pemahaman  suatu wilayah masyarakat secara patisipatif, digunakan dalam upaya pengenalan dan penggalian potensi sumberdaya dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat di desa semperiuk untuk pengembangan usaha budidaya perikanan khususnya pembesaran ikan nila gesit. Metode tersebut melibatkan masyarakat setempat khususnya para petani,  Metode PRA tersebut dijadikan sebagai alat pembelajaran masyarakat untuk melihat potensi daerah mereka sendiri, dimana dalam proses belajar tersebut diterapkan melalui kegiatan bersama. Partisipasi aktif masyarakat khususnya para petani ini tidak hanya dilibatkan dalam perencanaan kegiatan saja, tetapi juga pada operasional, monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan.







IV. PELAKSANAAN PROGRAM

4.1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
            Usaha ini dilakukan di Desa Semperiuk Kecamatan Jawai Selatan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Waktu pelaksanaan kegiatan dilakukan mulai tanggal 24 Februari sampai 2 Mei 2010.

4.2. Tahapan Pelaksanaan
4.2.1. Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi untuk usaha budidaya ikan perlu dipertimbangkan agar usaha yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan harapan dan dapat berkesinambungan. Tidak semua sungai dapat dijadikan tempat usaha budidaya dalam keramba jaring tancap. Aspek teknis seperti kondisi perairan (sungai) dan kualitas air sangat berperan penting bagi pertumbuhan ikan yang akan dipelihara. Selain aspek teknis, aspek sosial ekonomi juga  harus diperhatikan meliputi prasarana jalan, keamanan, mudah mendapatkan tenaga kerja, dekat dengan daerah pengembangan budidaya ikan dan pemasaran.

4.2.2. Pembuatan Keramba Jaring Tancap
Setelah bahan dan alat guna membuat keramba jaring tancap telah tersedia maka langkah yang dilakukan adalah :
a. Buat kerangka menurut ukuran yang dikehendaki, dalam hal ini panjang 3 meter, sedang lebar 2 meter. Kemudian kayu gelam (cerocok) ditancapkan kedalam lumpur untuk membuat kerangka keramba. Delapan tiang memanjang yang masing-masing merupakan tulang tempat mengikat tiang-tiang melintang.
b. Kayu cerocok diikat dengan tali tambang/rotan atau dipaku antara tiang yang telah ditancapkan dengan tiang-tiang melintang kerangka yang bentuknya menyerupai balok.
c. Setelah kerangka tiang terbentuk persegi panjang dengan ukuran 2x3 m, maka waring dipasang pada kerangka yang diikat dengan tali tambang. Jaring yang digunakan ada 2 macam, yaitu jaring dalam sebagai wadah budidaya dan jaring luar dengan ukuran mata jaringnya agak besar yang berfungsi untuk pelindung jaring wadah  budidaya atau pencegah serangan hama.
d. Kemudian masukan waring kedalam air hingga hampir menyetuh lumpur, titik atas waring jangan sampai tenggelam pada saat pasang air tertinggi atau banjir. Dan ketika surut terendah tinggi air dalam waring tidak kurang dari 50 cm.

4.2.3. Teknik Budidaya
Budidaya ikan di keramba jaring tancap yang harus pertama kali diperhatikan adalah debit air dan arus air pada sungai tersebut, pemilihan tempat untuk keramba jaring tancap harus memilih tempat yang susah untuk mengalami kekeringan air. Peletakan jaring tancap didaerah yang berarus kecil dan dalam dengan kedalaman ideal untuk keramba jaring tancap adalah 60-70 cm.
Apabila keramba jaring tancap sudah dibuat maka dilakukan teknik budidaya yang meliputi :
a. Penebaran benih ikan nila gisit kedalam wadah budidaya. Penebaran benih ikan sebaiknya pada pagi atau sore hari saat kondisi perairan tidak terlalu panas agar ikan tidak stres. Sebelum ikan ditebarkan perlu dilakukan aklimatisasi atau penyesuaian kondisi lingkungan sekitar. Caranya ialah  ikan dalam kantong plastik (wadah pengangkutan) dibiarkan terapung dalam perairan sekitar 2-4 menit, kemudian secara bertahap air perairan sedikit demi sedikit dimasukkan kedalam wadah pengangkutan. Bila kondisi air dalam wadah pengangkutan dengan air perairan sudah sesuai (sama), maka ikan-ikan yang ada dalam wadah pengangkutan biasanya akan keluar dengan sendirinya.
b. Pemberian pakan. Masa pemeliharaan ikan selama ±70 hari, pakan yang diberikan berupa pakan buatan berupa pellet yang banyak tersedia di pasaran. Selain pakan berupa pellet, pakan tambahan lainnya dapat juga diberikan seperti tanaman air dan daun-daunan. Bulan pertama pemeliharaan, setiap hari pakan diberikan sebanyak 4% dari berat total ikan yang dipelihara. Bulan kedua jumlah pellet dikurangi menjadi 3,5% dan bulan ketiga pemeliharaan maka setiap harinya pakan yang diberikan adalah 3% dari berat total ikan. Agar jumlah pakan yang diberikan dapat ditentukan maka setiap 7-10 hari sekali dilakukan sampling untuk menentukan berat ikan. Pakan diberikan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang dan sore hari. Pemberian pakan dilakukan sedikit demi sedikit sesuai dengan nafsu makan ikan.
c. Pengendalian hama dan penyakit ikan. Selama pemeliharaan, kesehatan ikan selalu diamati agar dapat melakukan penaggulangan sedini mungkin. Hama ikan dapat berupa hama perusak, pesaing dan pemangsa yang dapat mengganggu pertumbuhan ikan sehingga menurunkan jumlah produksi. Hama tersebut dapat dibasmi secara kimia (menggunakan obat-obatan), biologi (menekan pertumbuhannya dengan memasukkan hewan predator) maupun menangkap hama secara langsung. Apabila ditemui tanda-tanda serangan penyakit, maka segera dilakukan diagnostik dan pengobatan serta memisahkan atau membuang ikan yang terserang agar tidak menginfeksi  ikan yang sehat. Kebersihan keramba harus selalu tetap terjaga dan selalu melakukan pengontrolan terhadap jaring karena dikhawatirkan ada yang bocor.

4.2.4. Pemanenan dan Pemasaran
Pemenenan ikan dilakukan apabila masa pemeliharaan sudah mencapai ± 70 hari, dilakukan dengan cara mempersempit ruang gerak ikan di dalam kantong keramba. Hal ini dilakukan dengan cara salah satu sisi kantong jaring dengan sisi lainnya dirapatkan. Dengan cara ini ikan-ikan yang akan ditangkap tergiring dan terkumpul di satu tempat sehingga mudah dipanen. Ikan-ikan yang sudah terkumpul diambil menggunakan serokan dan dimasukkan kedalam wadah. Ikan yang telah dipanen akan dipasarkan dalam bentuk ikan hidup dan segar  ke rumah-rumah makan, pasar ikan tradisional, para pengumpul ikan dan langsung ke konsumen.

4.2.5. Evaluasi Kegiatan
Evaluasi terhadap perubahan pengetahuan masyarakat mengenai teknologi budidaya ikan dilakukan kegiatan ini sebelum dan setelah kegiatan dilakukan. Evaluasi untuk mengetahui peningkatan pendapatan dianalisis berdasarkan data biofisik dan sosial ekonomi. Data biofisik yang diperlukan keragaan pertumbuhan spesifik, efisien pakan, kelulusan hidup, produksi ikan dan kualitas air.
Data sosial ekonomi juga diperlukan seperti harga komponen produksi, biaya sarana produksi, biaya sarana produksi, biaya tenaga kerja dan pendapatan. Berdasarkan data ini, dapat dihitung analisis finansial untuk satu musim tanam yang meliputi penerimaan, keuntungan, survival, R/C ratio, BEP, pengeluaran dan pengembalian modal.

4.3. Instrumen Pelaksanaan
4.3.1. Alat
Alat yang digunakan dalam berwirausaha adalah waring (jaring), kayu cerocok, kayu bloti, batu pemberat, ember, serokan, timbangan, kantong plastik, tali polyatilin, paku, meteran, alat-alat tukang, alat tulis dan perlengkapan mengukur kualitas air.

4.3.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam usaha ini antara lain, benih ikan nila gesit ukuran 5 cm, pakan ikan berupa pellet ukuran 3 mm dan 5 mm.


4.4. Rancangan dan Realisasi Biaya
No
Barang
Harga
Jumlah
Total Harga
1
Pembuatan keramba tancap.
  1. Jaring
  2. Jaring penutup
  3. Jaring pengaman
  4. Cercok/kayu
  5. Beloti
  6. Papan
  7. Upah pekerja
  8. Tali nilon
  9. Baleho
  10. Paku

Rp. 275.000
Rp.     50.000
RP.   44.000
RP.   25.000
RP.   25.000
RP.   25.000
RP.   50.000
RP.   50.000
RP. 125.000
RP.   10.000

2 unit
10 m
3 kg
8 batang
8 batang
2 keping
2 orang
1 rol
1 unit
4 kg

Rp.    550.000
Rp.      50.000
RP.    135.000
RP.    200.000
RP.    200.000
RP.      50.000
RP.    100.000
RP.      50.000
RP.    125.000
RP.      40.000
2
Benih ikan Nila Gesit
Ukuran 5-8 cm

RP.        600

2000 ekor

RP.1.200.000
3
Pakan ukuran
a.       5 mili
b.      3 mili

RP.     5.400
RP.   12.000

240 kg
40 kg

RP.1.296.000
RP.   480.000
4
Timbangan
RP.150.000
1 unit
RP.   150.000
5
Peralatan budidaya
  1. Tabung oksigen
  2. Karet gelang
  3. Ember
  4. Serokan
  5. Plastick peacking


RP.350.000
RP.  50.000
RP.  10.000
RP.  10.000
RP.  60.000


1 unit
1 bungkus
2 buah
1 buah
1 pak


RP.   350.000
RP.     50.000
RP.     20.000
RP.     10.000
RP.     60.000
6
Biaya transportasi, kosumsi dan akomondasi
  1. Ongkos transportasi
  2. Biaya makan

  1. Biaya penginapan


RP.  35.000
RP.  12.500

RP.  60.000


3 0rang
3 0rang/5 hari
2 kamar



RP.   210.000
RP.   190.000

RP.   600.000
7
Dokumentasi


RP.   150.000
8
Pembuatan laporan dan penelusuran data


RP.   250.000
9
Fotocopy dan ATK


RP.   250.000
10
Lain-lain


RP.   234.000

JUMLAH


RP.7.000.000





V.                HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil
Sungai semperiuk yang selama ini belum dimanfaatkan untuk budidaya ikan, ternyata dapat dimanfaatkan sehinga produktivitas perairan dapat tingkatkan dan menambah pendapatan budidaya ikan dan masyarakat sekitarnya.
Hasil kegiatan usaha program kreativitas mahasiswa yang telah dilaksankan selama ± 70 hari, di desa Semperiuk Kecamatan Jawai Selatan Kabupaten Sambas. Provinsi Kalimantan Barat yaitu:
a.       Pertumbuhan ikan nila gesit.
Pentumbuhan ikan nila gesit setelah di lakukan penebaran dan pemeliharaan selama ±70 hari. Berat rata-rata penebaran  awal sekitar  10 gram per ekor, setelah di lakukan pemeliharaan mencapai berat rata-rata 200 gram jadi pertumbuhan yang di dapat yaitu sekitar 190 gram per ekor. Bila berat rata-rata pada awal penebaran di jumlahkan dengan jumlah benih ikan nila akan di dapat berat keseluruhan mencapai 20.000 gram dan berat rata-rata pada akhir pemeliharaan di jumlahkan dengan jumlah Survival akan di dapat berat keseluruhan ikan yaitu sekitar 360.000 gram  keseluruhan ikan nila setelah dilakukan pembesaran.
Pertumbuhan panjang ikan nila yang di tebar dengan panjang awal 5 cm dan setelah di lakukan pemeliharaan mencapai panjang 20 cm, jadi pertumbuhhan panjang yang di dapat selama pemeliharaan ± 70 hari adalah 15 cm.
b.      Produksi ikan nila
Usaha bididaya akan kehilangan daya tariknya bila usaha itu tidak menjanjikan keuntungan, untuk mengetahui seberapa besar keuntungan yang akan di dapat dari usaha yang di lakukan maka diperlukan analisa usaha yang dilakukan dalam keramba jaring tancap.
Ukuran panen ikan nila gesit setelah pemeliharaan selama ± 70 hari mencapai berat rata-rata 200 gram dengan tingkat kelangsungan hidup 90%, maka jumlah produksi yang di hasilkan adalah 360.000 gram. Harga ikan nila di pasar perkilogramnya Rp. 20.000 maka pendapatan kotor diperoleh Rp. 7.200.000
c.       Kualitas air
Berdasarkan hasil pengamatan parameter kualitas air disungai desa semperiuk di dapat parameter kualitas air yang meliputi Salinitas, pH, Suhu, DO, kedalaman dan kecerahan adalah sebagai berikut:

Tabel. Parameter kualitas air di lokasi usaha
No
Parameter kualitas Air
Kisaran
1
Salinitas
0,3 – 4 ppt
2
pH
5 – 6
3
DO
4,0 – 4,13 ppm
4
Suhu
27 -28,5 oC
5
Kecerahan
25-30 cm
6
Kedalaman air
1-2 m

d.          Analisis Usaha
Hasil analisa usaha pembesaran ikan nila gesit air tawar selama ± 70 hari di Desa Semperiuk Kecamatan Jawai Selatan Kabupaten Sambas.

     Tabel 2. Analisa Usaha Pemebsaran Ikan Nila Gesit Di Dalam Keramba Tancap
No
Analisa
Jumlah
1
Biaya investasi
Rp. 1.757.000
2
Biaya operasional
Rp. 2.374.550
3
Hasil penjualan
Rp. 7.200.000
4
Keuntungan
Rp. 4.825.450
5
 Break ovent point (BEP)
-          Produksi
-          Harga

      118,7 kg
Rp.6.600
6
Pengembalian modal
     0,85  periode
7
R/C ratio
      3,0

5.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil pertumbuhan ikan nila gesit yang di lakukan pembesaran dalam keramba jaring tancap  dengan waktu pemeliharaan selama ±70 cukup layak untuk di lakukan karena pertumbuhan berat ikan nila per hari adalah 2,71 gram dan pertumbuhan panjang 0,214 cm perhari. Survival atau tingkat kelangsungan hidup sebesar 90%. Berat mutlak yang di peroleh selama pemeliharaan seberat 350.000 gram.
Produksi usaha pembesaran ikan nila dalam keramba jaring tancap sangat menjanjikan untuk di kembangkan karena dari tingkat kelangsungan hidup ikan nila gesit sangat tinggi yaitu sekitar 90%. Dari hasil survival akan di dapat keuntungan yang tinggi, total pendapatan kotor selama pemeliharaan sebesar Rp. 7.200.000.
Pertumbuhan ikan selain di tentukan oleh kualitas pakan di pengaruhi pula oleh kondisi perairan tempat pemeliharaan. Menurut Huet (1971) dikatakan bahwa pertumbuhan ikan di pengaruhi oleh faktor internal (umur, kemanpuan memanfaatkan pakan yang di beri, ketahanan terhadap penyakit dan penyakit) dan faktor luar ( kualitas air dan pakan).
Menurut  Bardach et al, (lelono, 1986), suhu air yang optimal untuk mendukung pertumbuhan ikan nila berkisar antara 25-30 0C ; pH optimum untuk pertumbuhan antara 6,5-8,5 namun demikian ikan masih dapat hidup pada kisaran pH antara 4-12
Berdasarkan pendapat di atas tentang suhu dan pH air di lokasi usaha pembesaran ikan nila gesit di desa semperiuk yaitu kisaran suhu 27 – 28,5 0C di golongkan sangat mendukung sedangkan pH kisaran 5 -6 ppt tergolong cukup baik karena ikan nila mempunyai batas toleransi pH yang rendah sekitar 4 ppt.
Dari table 2 diatas tentang analisa usaha dapat dijelaskan bahwa biaya investasi dalam usaha pembesaran ikan nila gesit di dalam keramba tancap adalah sebesar Rp. 1.757.000, sedangkan biaya operasional sebesar Rp. 2.374.550 dari biaya modal ini. Total penghasilan diperoleh dari hasil penjualan ikan nila sebanyak 360 kg dengan keuntungan bersih yang di dapatkan sebesar Rp 4.825.450. dengan keuntungan tersebut cukup besar apabila di bandingkan dengan pemeliharaan selama ±70 hari. Break event point atau titik balik modal produksi akan di peroleh apabila jmlah produksi mencapai 118,7 kg dan titik balik modal harga akan di peroleh apabila harga produksi ikan nila sebesar Rp. 6.600. Pengembalian modal usaha akan di dapat di kembalikan dalam waktu 0,85 periode. dan nilai Revenue cost (RC) ratio dari usaha pembesaran adalah sebesar 3,0 dengan nilai ini usaha pembesaran ikan nila gesit dalam keramba jaring tancap dikatakan layak untuk di lakukan karena nilai RC ratio sebesar 1.-






















VI.             KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.     Kesimpulan

Sungai Semperiuk dimanfaatkan untuk budidaya ikan nila gesit dalam keramba jaring tancap. Selama ± 70 hari pemeliharaan ikan dapat tumbuh hingga berat 200 gram, kelangsungan hidup dan produksi 360 kg sehingga menghasilkan keuntungan bersih Rp. 4.825.450 dan R/C ratio 3,0.
6.2.     Saran
Sebaiknya Adanya kerja sama antara pemerintah atau instansi terkait dengan  mahasiswa untuk pengembangan usaha budidaya ikan dalam keramba jaring tancap secara berkelanjutan. Untuk mengembangkan usaha dengan skala lebih besar perlu adanya kerjasama dengan pemerintah daerah.



























1.        Analisis Pertumbuhan Ikan Nila Gesit dalam Keramba Jaring Tancap
1.      Pertumbuhan perhari
a.       Berat
            Wt - Wo
A =
                 T

                 200 – 10
A =                                       =  2,71
                   70
Jadi pertumbuhan ikan nila gesit per ekor adalah 2,71 gram per hari
Keterangan :
A   =  Pertumbuhan perhari
Wt  = Berat rata setelah pemeliharaan (gram)
Wo =Berat rata sebelum pemeliharaan (gram)
T    = lama pemeliharaan (hari)
b.         Panjang
       Wb - Wa
A =
            T

            20 - 5
A =                                       =  0,214
              70
Pertumbuhan ikan nila gesit didapat 0,21 cm per hari
Keterangan :
A    = pertumbuhan ikan nila
Wb = panjang setelah pemeliharaan
Wa = penjang sebelum pemeliharaan
T    = lama pemeliharaan


2.      Survival
        Nt
S =             X 100 %
        No
        1800
S =                   X 100 %
        2000
   =   0,9  x 100 %         =  90 %
       
Jadi tingkat survival atau  tingkat kehidupan ikan nila gesit adalah sebesar 90 %
Keterangan :
S  = survival
Nt= jumlah ikan yang hidup setelah pemeliharaan (ekor)
No= jumlah awal penebaran
3.       Berat mutlak

Bm =  Wt2 – Wt1
       =  360.000 – 10.000
       = 350.000
Jadi berat mutlak ikan nila gesit adalah 350.000 gram
Keterangan :
Bm =  berat mutlak
Wt2=  berat akhir pemeliharaan
Wt1=  Berat awal pemeliharaan







2.        Analisa Usaha Pembesaran Ikan Nila Gesit Dalam 1 Siklus
a.    Biaya investasi
 

No     Nama Barang                   Daftar Harga          Jumlah           Total Harga
                                                         Barang
1.             Keramba tancap                 Rp. 750.000             2 unit               Rp. 1.500.000
2.             Timbangan                         Rp. 150.000             1buah              RP.    150.000
3.             Ember                                Rp. 10.000               2 buah             Rp.      20.000
4.             Jaring pengaman                Rp. 44.000               3 kg                 Rp.    132.000
5.             Jaring penutup                   Rp. 5.000                 10 m                Rp.      50.000
6.             Tabung oksigen kecil         Rp. 350.000             1 buah             Rp.    350.000
7.             Serokan                              Rp. 10.000               1 buah             Rp.      10.000 
Jumlah                                                                                       Rp. 1.757.000

b.      Biaya Variabel/Operasional
 

No     Nama Barang                   Daftar Harga          Jumlah           Total Harga
                                                         Barang
1.      Plastik Peacking                   Rp. 60.000               1 pak               Rp.      60.000
2.      Penyusutan biaya investasi  15 %                         Rp.    263.550
3.      Benih ikan nila                     Rp. 600                    2.000 ekor       Rp. 1.200.000
4.      Karet gelang                         Rp. 50.000               1 bungkus       Rp.      50.000
5.      Tali Nilon                             Rp. 50.000               1 rol                 Rp.      50.000
6.      Upah pekerja                        Rp. 50.000               2 orang            Rp.    100.000
7.      Pakan                                                                   
5 mili                                  Rp. 5.400                 240 kg             Rp. 1.296.000
3 mili                                  Rp. 12.000               40 kg               Rp.    480.000
Jumlah                                                                                       Rp. 2.374.550




c.       Hasil penjualan
Jumlah produksi x harga jual/kg ikan
360 x 20.000 = Rp 7.200.000

d.       keuntungan
keuntungan        = Hasil Penjualan – jumlah biaya operasional
                           = Rp. 7.200.000 – 2.374.550
                           = Rp. 4.825.450
Artinya, keuntungan bersih yang akan diperoleh sebesar  Rp 4.825.450

e.       BEP
                                           Biaya operasional
BEP Produksi   =
                                               Harga jual/kg

                                 Rp. 2.374.550
                                      =
                                              Rp. 20.000
                                        
                                         =        118,7 kg

Artinya , titik balik modal akan tercapai apabila jumlah produksi ikan nila sebesar  118,7 kg.
                                           Biaya operasional
BEP Harga        =
                                             Total Produksi

                                Rp. 2.374.550
                                      =
                                                360 kg
                                        
                                         =  Rp.            6.600

                        Artinya, titik balik modal yang akan tercapai apabila harga produksi  ikan nila sebesar  Rp. 6.600



                                               Hasil penjualan
f.        R/C Racio     =
                                           Biaya operasional

                                           Rp. 7200.000
                                      =
                                Rp. 2.374.550

                                         =  3,0

Nilai B/C ratio sebesar 3,0 menunjukan bahwa usaha budidaya ikan nila sangat layak dilakukan. Dari setiap Rp. 1- akan diperoleh keuntungan 3,0

  1. Pengembalian modal
                                                      Investasi + Biaya Operasional
Pengembalian Modal =
                                                    Keuntungan Operasional

                                           Rp. 1.757.000 + 2.374.550
                                               =
                                                             Rp. 4.825.450

                                                  =  0,85

Artinya, modal yang dikeluarkan pada usaha budidaya ikan nila ini dapat dikembangkan dalam waktu 0,85 kali periode.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar